Oleh: Bareph Yadie Kasalo | 26 Juni 2010

Sistem Penilaian dalam Konkurs Perkutut


Sistem Penilaian dalam Konkurs Perkutut

Berdasarkan Keputusan Konggres P3SI Pusat di Jakarta tahun 1994, perkutut dinilai dari :

1. Angkatan (suara depan)
2. Tengah (suara tengah)
3. Ujung (tengkung atau suara ukung)
4. Dasar Suara (air suara)
5. Irama

Berikut adalah kutipan yang kami ambil dari “Sukses Dalam Konkurs Perkutut” karangan B. Sarwono. :

* Angkatan (suara depan)

Burung yang mempunyai suara depan panjang (klauu, kleoo, klaoo, weoo), mengalun, dan menjerit seperti melempar tergolong dalam kategori baik sehingga nilainya tinggi. (Istilah yang kini populer didengar sehubungan dengan suara depan : nyelep, narik, dll.)

* Tengah (suara tengah)

Burung harus mempunyai suara tengah “ke-tek” yang jelas, bukan hanya “ke” atau “tek” saja. “Ke-tek” ada beberapa macam, misalnya ke-te-te, ke-pe-tek, ke-te-te-te-te. Disini, suara tengah tidak harus panjang atau lebih banyak. Yang penting bunyi suara tengah jelas dan tidak kabur. Pada konggres tahun 1994, P3SI menetapkan standar suara tengah yang baik adalah minimal dua langkah, yaitu “ke-tek” atau “ke-te”. (Istilah yang sering didengar sehubungan dengan suara tengah : step; langkah; jalan : tiga, engkel (empat), lima, sari, dobel, dobel plus, triple; jalan lelah; jalan bak kereta api; tengah goyang; dll. ).

* Ujung

Suara ujung atau suara akhiran kuuung yang baik adalah yang menggaung, berat, panjang, dan dengan nada menurun. Makin panjang kungnya, semakin baik nilainya. Akhiran kung ada beberapa macam, seperti kuuung, koong, atau kooo. (Istilah yang sering didengar sehubungan dengan suara ujung : tengkung, buangan, dll.)

* Dasar Suara (air suara)

Dasar suara harus lantang (bisa keras, nyaring, tebal, bedah karang, dan sebagainya), jelas terdengar, dan nadanya tidak naik turun. Burung yang mempunyai suara seperti itu akan mendapat nilai yang tinggi untuk dasar suaranya. (Istilah sehubungan dengan dasar suara : power)

* Irama

Irama atau lagu merupakan keserasian antara suara depan, tengah, dan belakang. Semakin serasi (luwes) dengan pembagian ritme seimbang, semakin tinggi nilai yang diberikan juri. (istilah yang sering didengar sehubungan dengan irama : ayu)

Suara dobel, tripel, atau suara tengah banyak, bukan jaminan bahwa suara burung itu baik. Semakin banyak suara tengahnya, biasanya semakin lemah suara belakangnya, “kung”nya tipis. Burung yang engkel bisa menjadi juara asal nggacor, berbunyi stabil sampai sekitar 8 (delapan) kali pantauan juri, koordinator, maupun dewan.
Dewasa ini, suara engkel kurang mendapat perhatian. Orang lebih suka mendengar suara yang jalan lima, dobel ketek, atau triple. Namun, menurut aturan P3SI, suara jalan empat atau empat tutukan (misal : kleo ke-te kooong) merupakan kategori ideal. Yang terpenting alunan iramanya teratur, kalem, tidak terburu-buru, dan stabil, baik tempo maupun vokalnya. Suara yang kalem didengar lebih sopan dan lebih dapat dinikmati daripada yang suaranya cepat dan temponya pendek.

Angka Penilaian

Dalam konkurs yang selama ini ditemui angka tertinggi tercapai adalah sebesar 45 dimana masing-masing unsur suara mendapat penilaian 9 (sembilan). Nilai ini adalah nilai sempurna yang dicapai oleh seekor perkutut juara.

Berikut ini adalah kutipan dari Fauna 04/ Maret 1999 :

Pemberian Nilai

Penilaian awal (bendera tanda bunyi) dapat diberikan setelah burung peserta konkurs berbunyi sekurang-kurangnya 4-5 kali. Untuk burung yang sudah dinilai diberikan bendera tanda penilaian. Bilamana jumlah nilai mencapai 42 (dari total nilai lima unsur suara) sampai dengan 42,5 diberikan tanda berupa bendera koncer satu warna (kuning).

Untuk jumlah nilai 43 sampai dengan 43,5 dapat diberikan oleh juri penilai setelah mendapat persetujuan dari koordinator juri dan burung yang dinilai telah berbunyi sekurang-kurangnya 8 kali serta memenuhi syarat keindahan suara.

Adapun bendera koncer untuk nilai 43 adalah dua warna (kuning dan hijau). Sedangkan bendera koncer untuk nilai 43,5 adalah tiga warna (kuning, hijau dan putih).

Untuk jumlah nilai 44 sampai dengan 44,5 diberikan setelah mendapat persetujuan dari seorang koordinator juri dan ketua juri (dewan juri). Burung yang dinilai dan berhak naik nilai dari dua warna ke tiga warna atau dari tiga warna ke empat warna, sekurang-kurangnya harus bunyi 8 kali berturut-turut serta memenuhi syarat keindahan bunyi.

Nilai 44 akan diberikan tanda berupa bendera koncer empat warna (kuning, hijau, putih dan biru). Sedangkan jumlah nilai 44,5 akan diberikan tanda berupa bendera koncer lima warna (kuning, hijau, putih, biru dan merah).

Jumlah nilai 45 adalah nilai sempurna yang hanya dapat diberikan kepada burung yang memenuhi persyaratan antara lain :

1. Memenuhi semua kriteria keindahan suara yang ditentukan.
2. Berbunyi sekurang-kurangnya 10 kali berturut-turut tanpa kesalahan atau penurunan kualitas.
3. Disaksikan dan disepakati bersama oleh juri penilai, dua orang koordinator juri dan ketua juri (dewan juri) Bagi burung peserta yang mendapat jumlah nilai 45 diberikan tanda penilaian berupa bendera koncer khusus atau istimewa. Biasanya berbentuk bola tenis (pimpong) atau tanda-tanda khusus lainnya yang terletak di bagian paling atas bendera koncer tersebut (empat warna + tanda khusus)

Sistem Penilaian dalam Konkurs Perkutut yang Masih Piyik.

Dasar peraturan yang dikeluarkan oleh P3SI sudah ada, tapi di lapangan sering terjadi adanya peserta lomba yang mencuri kesempatan untuk mendapatkan hadiah dengan membawa perkutut yang sudah seharusnya tidak dimasukkan ke dalam kategori piyik, bahkan mungkin sudah embahnya piyik. Memang kalau mau lebih ketat bisa saja panitia memeriksa terlebih dahulu perkutut-perkutut yang dilombakan apakah ciri-ciri fisik yang dimiliki perkutut tersebut masih menunjukkan bahwa perkutut tersebut masih bisa dikategorikan piyik. Tapi selama ini belum terlihat adanya penanganan serius dalam kategori ini, bisa jadi kelas ini hanya dianggap sebagai pelengkap saja. Sehingga sering terjadi perkutut yang akan dilombakan di kelas dewasa diikutkan di kelas ini baik untuk mengenalkan lapangan pada si perkutut atau memang bermaksud mencuri hadiah yang disediakan panitia. Mudah-mudahan kategori ini di kemudian hari akan lebih diperketat lagi, sehingga tidak ada lagi suara sumbang yang terdengar disana-sini.

Akhirnya P3SI Keluarkan Tata Cara Konkurs Piyik

Agrobis No. 288 Minggu 1 Oktober 1998

Sebelum pedoman baku ini terbit, memang belum ada pegangan yang pasti akan pelaksanaan kelas piyik. Perihal teknis penjurian misalnya, sayang tidak dicantumkan, berapa usia maksimum bagi seekor perkutut yang berhak mengikuti kelas ini !

Yang jelas, menurut aturan itu, yang berkategori piyik memiliki dua ciri : Pertama masih memiliki alis mata yang berbintik-bintik berwarna putih dan melekat disekitar lingkaran kepopak mata bagian luar. Kedua, masih memiliki bulu burik berwarna coklat yang berada di sekitar sayap serta punggungnya.

Bilamana salah satu atau kedua ciri-ciri itu sudah tidak ada, maka pada umumnya warna dan ciri-cirinya sama dengan perkutut dewasa, kecuali bilamana bulu sayapnya dibuka dan diteliti sisa jumlah bulu luar piyiknya untuk menentukan perkiraan umur perkutut tersebut.

Sehingga untuk menghindari timbulnya persoalan yang diakibatkan oleh ketiadaan kedua ciri tersebut, perkutut tersebut bisa dikategorikan sebagai perkutut remaja. Atau ketentuan mengenai tata cara konkurs dan penjuriannya disamakan dengan perkutut dewasa.

Sementara itu tata cara konkurs dan penjurian sama halnya dengan tata cara dan penjurian perkutut dewasa. Demikian pula tata cara penyelenggaraan konkurs dan penjuriannya sama dengan perkutut dewasa.

Sedangkan persyaratan lapangan serta perlengkapannya diatur antara lain sebagai berikut :

1. Bentuk lapangan hendaknya segi empat (bujur sangkar) atau empat persegi panjang.
2. Jumlah blok, lapangan dibagi empat blok atau lebih. Masing-masing blok dipancang sebanyak-banyaknya 42 tiang gantangan.
3. Penggunaan blok lapangan konkurs dapat menggunakan sekurang-kurangnya 2 blok penilaian dengan ketentuan jumlah pancangan tiang gantangan pada masing-masing blok sebanyak-banyaknya 42 gantangan.
4. Jarak antar tiap gantangan ditentukan sejauh 1,5 meter atau 2 meter.
5. Tinggi tiap gantangan ditentukan setinggi 3 meter.
6. Untuk membedakan kedudukan kelompok tiang gantangan di dalam bloknya, pangkat tiap gantangan diberi warna setinggi 1,5 – 2 meter setiap bloknya. Setiap blok penilaian diberi warna yang berbeda dengan blok penilaian lainnya.
7. Jarak antar blok hendaknya terdapat jalur pemisah selebar 1,5 sampai 2 kali jarak tiang gantangan.
8. Di bagian tepi lapangan konkurs harus tersedia jalur yang memisahkan bagian lapangan yang menjadi arena konkurs dan tempat pengunjung. Lebar jalur pemisah sekurang-kurangnya 7 meter.

Pelaksanaan Penilaian

Pertama. Penilaian dilaksanakan secara tertulis dengan memberikan angka-angka seperti yang diatur dalam ayat 8 dan ayat 9 pasal 22, diisikan pada kolom-kolom yang tersedia dalam lembar penilaian oleh juri penilai.

Kedua. Penilaian awal dapat diberikan setelah burung peserta konkurs berbunyi sekurang–kurannya satu sampai dua kali. Untuk yang sudah dinilai diberikan bendera tanda penilaian.

Ketiga. Bilamana jumlah nilai mencapai 42 s/d 42,5 juri penilai memberikan tanda berupa bendera koncer satu warna.

Keempat. Untuk jumlah nilai 43 s.d 43,5 dapat diberikan oleh juri penilai setelah mendapat persetujuan dari koordinator juri dan burung yang dinilai telah berbunyi sekurang-kurangnya 2 kali berturut-turut. Sedang untuk nilai 43,5 burung yang dinilai telah berbunyi sekurang-kuranya 3 kali berturut-turut.

Kelima. Untuk jumlah nilai 44 s.d. 44,5 diberikan setelah mendapat persetujuan seorang koordinator juri dan ketua juri (dewan juri). Burung yang dinilai telah berbunyi sekurang-kurangnya 4 kali berturut-turut serta memenuhi syarat keindahan bunyi.

Keenam. Jumlah nilai 45 adalah nilai sempurna yang hanya dapat diberikan kepada burung yang telah memenuhi persyaratan antara lain :

1. Memenuhi semua kriteria keindahan suara yang ditentukan.
2. Berbunyi sekurang-kuranya 5 kali berturut-turut tanpa kesalahan atau penurunan kualitas.
3. Disaksikan dan disepakati bersama oleh juri penilai, dua orang koordinator juri dan ketua juri. Bagi burung yang mendapat jumlah nilai 45 diberikan tanda penilaian berupa bendera koncer khusus / istimewa.
4. Apabila semua upaya pembandingan sebagaimana dimaksud dalam ayat 2a, 2b, 2c pasal ini tetap menghasilkan perbandingan nilai yang sama, maka penentuan peringkat kemenangan dilakukan melalui undian yang dilakukan oleh pemilik burung, wakilnya atau peserta lainnya. Ketujuh. Hasil perumusan nilai sebelum diumumkan terlebih dahulu harus mendapat pengesahan dari ketua juri.

Dengan adanya juklak ini, berarti peserta, juri maupun panitia konkurs kelas piyik sudah memiliki pedoman baku yang bisa dipakai di mana saja, di seluruh Indonesia. “Kami berharap agar konkurs-konkurs piyik tak lagi ada perdebatan soal teknis penilaian, misalnya,” tandas Ketum P3SI Pusat Soekamdi Soewendar.
————————–
Sumber: http://www.oocities.com


Responses

  1. info yang sangat menarik, sepertinya harus dicoba🙂 , Affleck


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: