Oleh: Bareph Yadie Kasalo | 30 Juli 2010

Mencegah dan Menangkap Burung Lepas


Burung lepas, sepertinya ini adalah masalah klasik dalam perkicauan. Bagaimana mencegah dan mencoba menangkap lagi burung yang lepas? Berikut ini saya turunkan tulisan yang pernah saya buat untuk mypetzone (almarhum) dan milis kicaumania dengan beberapa update di sana-sini. (Seingat saya, saya juga pernah menyinggung tentang hal ini di KM tetapi saya cari nggak juga ketemu. Kalau ternyata sudah ada, nggak apa2 ya Om Mod, karena tulisan ini saya bikin lebih rapi dengan up-date-an yang lumayan signifikan).

PENCEGAHAN

Untuk mencegah burung lepas, tentunya kita harus menginventarisasi dulu penyebab burung lepas, baru kemudian melakukan pencegahan. Penyebab burung lepas antara lain adalah:

A. Faktor cantelan,  gantungan dan kerangka serta jeruji sangkar
1. Sangkar jatuh dan pecah karena cantelannya lepas/jebol. Pencegahan: Perhatikan cantelan sangkar. Periksa apakah mur/bautnya benar2 sudah kencang. Selalu cek, setiap hari sebab kalau mur/baut kendor, maka ketika ketiup angin, sangkar bergerak-gerak, goyang, memutar, maka sangkar bisa lepas dari cantelannya….Blam… burung lepas…..
2. Sangkar jatuh dan pecah karena gantungan pada gantangan yang kita pakai sudah tidak kuat menahan beban karena dudukannya lapuk dan sebagainya.
Pencegahan, kalau menggunakan paku, apa benar pakunya nancap kencang; tidak karatan; tidak aus. Perhatikan dudukan gantungan; kalau kayu, bambu dan sebagainya, apa tidak lapuk; tidak keropos dsb.
3. Sangkar jatuh dan pecah karena uliran (mur dan baut) cantelan memutar sedikit demi sedikit tanpa kita sadari dan pada akhirnya mur terpisah dari baut.
Pencegahan, cek selalu kondisi mur dan baut apakah sudah kencang. Usahakan diberi ring antara sangkar dan mur yang berfungsi sebagai penekan agar mur / baut tidak memutar sendir.
4. Sangkar jatuh dan pecah karena ketika mencantelkan atau menurunkannya menggunakan alat bantu tongkat yang tidak kuat/kokoh sehingga ketika kita mengangkat atau perlahan menurunkannya, beban sangkar tidak seimbang. Akibatnya, sangkar memuntir, terlepas dari kaitan dan jatuh.
Pencegahan, usahakan menggantungkan sangkar dengan menyantelkannya langsung pakai tangan. Kalau tempatnya tinggi, gunakan alat bantu kursi yang kokoh berdiri. Kalau terpaksa memakai tongkat yang berpaku/berkawat melengkung maka perhatikan keseimbangan beban sangkar; juga kekuatan sangkar. Jika tidak seimbang berisiko sangkar memutar saat diangkat atau diturunkan. Jika kerangka sangkar tidak kuat, juga berisiko patah dan sangkar jatuh berdebam…
5. Sangkar jatuh dan pecah karena ketika menggantangkan tidak dilihat secara cermat apakah lengkungan cantelan sudah tepat masuk ke lengkungan gantungan. Kadang cantelan hanya menumpang di ujung gantungan. Ketika ketiup angin atau burung bergerak-gerak, sangkar bergeser dan jatuh berdebam.
Pencegahan, begitu selesai menggantungkan, tengok kembali ketepatan posisi cantelan dan gantungan.
6. Sangkar jatuh dan jebol karena kerangkanya patah ketika sangkar dicantelakan di paku dalam posisi mepet tembok; atau sangkar melorot karena paku tidak menancap kuat di tembok.
Pencegahan, periksa kekuatan kerangka sangkar dan periksa dudukan paku. (Saran saya, jangan mencantelkan sangkar dengan posisi seperti ini, karena rawan semut, cicak dll, selain juga paku yang menonjol ke dalam sangkar berbahaya bagi burung di dalamnya).
7. Kerangka sangkar atau jeruji sangkar patah hanya karena didesak-desak atau dipatuk-patuk burung; atau mungkin juga karena digerogoti tikus.
Pencegahan, cek selalu kondisi keseluruhan sangkar dan jaga tetap kuat-kokoh. Meski sangkar baru, selalu cek setelah kita menurunkan dari gantungan dan membuka kerodongnya (kalau dikerodong), siapa tahu semalam digerogoti tikus dan karenanya jeruji patah-patah dan mudah diterobos burung.

B. Faktor pintu sangkar
1. Pintu tidak bisa menutup otomatis. Akibatnya, ketika kita membukanya untuk mengganti air dan sebagainya, dan lupa segera menutupnya, burung melesat keluar.
Pencegahan: Buat pintu sangkar dengan engsel (kebanyakan model gesekan naik turun) yang selicin mungkin. Dengan demikian, meskipun pintu tidak diberi beban (kalau diberi, lebih bagus), dia akan otomatis geser ke bawah; nutup. Pintu juga perlu diberi kancingan sehingga tidak berisiko terbuka saat kita membuka/mengangkat kerodong.
2. Pintu relatif lebar. Pintu yang relatif lebar sering menyebabkan ketika kita memasukkan tangan untuk mengganti pakan dsb, atau mencoba menangkap burung; tahu-tahu burung menelusup lewat atas, bawah atau samping lengan, dan beeerrrrr lepas.
Pencegahan: Pintu yang lebar memang bagus karena memudahkan kita untuk membersihkannya dan sebagainya. Jadi pencegahan untuk hal ini adalah mengusahakan tidak memberi/mengganti makan-minum secara langsung ketika burung masih di sangkar. Usahakan burung sudah dipindah ke karamba atau ke sangkar lain. Kalau terpaksa, maka lakukan itu di ruang tertutup atau usahakan tangan kiri (kanan) menjaga pintu bagian bawah yang terbuka ketika tangan kanan (kiri) masuk sangkar. Hal ini terutama perlu diperhatkkan untuk sangkar2 model bulat dimana bukaan pintu relatif panjang sampai di dekat dasar sangkar dan sangat rawan diterobos burung.

C. Faktor dasar sangkar

Penutup bagian bawah sangkar (baik jeruji maupun papan/seng dsb) melorot ketika sangkar diangkat miring.
Pencegahan usahakan penutup sangkar bagian bawah bisa dikancingkan (dan selalu dalam posisi terkancing seusai sangkar dibersihkan dll), sehingga kalau sangkar dalam kondisi miring, penutup tersebut tidak melorot/membuka sendiri.

D. Faktor kerodong

Kerodong bisa menyebabkan burung lepas ketika kita angkat dan menyangkut di pintu sangkar yang licin. Pencegahan, pastikan pintu sangkar sudah dikancing dengan kaitan kawat atau cara yang lainnya.

E. Faktor karamba
1. Kerangka atau jeruji karamba rapuh sehingga pecah ketika ditabrak burung.
2. Pintu karamba tidak bisa melorot sendiri begitu kita lepaskan atau masih terlalu seret sehingga perlu ditekan. Kalau kita lupa menekannya, ya burung bisa-bisa lepas. Pencegahan, sama seperti sangkar, usahakan tutup karamba bisa licin dan menutup sendiri (kalau perlu juga diberi pemberat).

F. Faktor kesalahan manusia (human error/kelalaian dan kecerobohan)
1. Meletakkan sangkar di sembarang tempat ketika kita akan atau seusai merawat burung. Perilaku ini mengundang risiko sangkar didekati kucing, ayam atau binatang lain yang tertarik kepada burung atau pakan burung di dalamnya. Ketika dilabrak, sangkar bisa terguling; pecah atau pintunya membuka dan burung terbang.
2. Menggantangkan atau menurunkan sangkar hanya dengan satu tangan. Biasanya, kita hanya mengandalkan telunjuk untuk menahan beban sangkar sementara salah satu kaki sangkar kita tumpukan ke pangkal ibu jari dibantu tumpuan tiga jari lainnya. Ha ini berisiko sangkar jatuh karena dalam kondisi kita jinjit dan berkonsentrasi memasukkan cantelan ke gantungan, keseimbangan badan terabaikan dan kita mudah tersungkur. Kalau pada saat itu cantelan belum masuk ke gantungan, biasanya sangkar langsung terjungkal ke depan. Byaaar… dan burung lepas atau minimal stres setelah kelabakan….
3. Membawa burung dengan motor hanya dengan cara dicangking pada bagian cantelannya. Ini berisiko cantelan jebol karena beban yang terjadi saat itu bukan semata-mata berat sangkar dan burung, tetapi juga faktor tiupan angin. Selain itu, membawa burung dengan cara ini berisiko mengganggu pengguna jalan lain yang bisa-bisa tersenggol sangkar dan sangkar pecah atau jatuh bedebam…. Usahakan membawa sangkar burung dengan cara dibuatkan tali model ransel dan sangkar aman menempel di punggung kita. Membawa sangkar dengan cara meletakkannya di jok motor dan menalikannya langsung dengan sepeda motor, berisiko membuat burung stres karena getaran motor langsung merambat ke sangkar. Hal ini lebih berisiko ketika kita melewati jalanan berlubang. Sementara kalau kita bawa model ransel, maka getaran motor atau geronjalan jalan berlobang teredam oleh tubuh kita.
4. Kurang rapat ketika mendekatkan sangkar dengan karamba ketika akan memindah burung dari sangkar ke karamba atau sebaliknya. Sela antara karamba dan sangkar rawan diterobos burung, terutama burung yang semi liar. (BTW, inilah kejadian yang belum lama ini saya alami dan beruntung si burung bisa ketangkap lagi).
Pencegahan, pastikan sangkar dan karamba benar-benar menempel sebelum kita berbarengan membuka pintu sangkar dan karamba untuk pemindahan burung.
5. Salah posisi ketika memegang burung. Salah posisi dalam memegang burung bisa menyebabkan burung mudah lepas, terutama kalau kita hanya memegang erat pada tubuh sementara bagian leher tidak kita posisikan terjepit di antara jari tangan. Seerat apapun kita memegang burung, tanpa sadar kita tetap akan memberi toleransi kerenggangan karena takut burung tergencet. Nah dalam kondisi ini, burung mudah lepas kalau tiba-tiba burung berontak atau kebetulan bulu-bulunya rontok dan tahu-tahu …plusut… bleber… burung terbang. Pencegahan, coba perhatikan cara bagaimana memegang burung yang benar dengan melihat postingan, kalau nggak salah dari OM HA di Forum MB (Om Mod, tolong bantu cari link-nya donk….).

MENANGKAP BURUNG LEPAS
Sedia payung sebelum hujan. Itulah hal yang perlu kita lakukan sebagai penghobi burung berkaitan dengan masalah tangkap menangkap burung lepas.

Hal yang perlu Anda miliki atau selalu siap digunakan adalah

1. Sangkar pemikat. Dalam waktu dekat insya Allah saya ambilkan pic-nya dan saya uploadkan sangkar pemikat punya kawan Solo yang dia beli di Bandung. Cara mengoperasikannya mudah dan selama 2 tahunan kawan itu memiliki sangkar pemikat, sudah lebih dari 15 burung lepas, baik milik sendiri atau milik orang lain, yang kena tangkap kembali dengan sangkar pemikat itu. (Hallo KMer’s Bandung, bisa bantu kita?) Untuk modelnya, mungkin banyak ragamnya selain model yang dimiliki kawan Solo itu.
Kalau tidak ada sangkar pemikat, ya sangkar kotak biasa saja yang dikonstruksi sedemikian rupa sehingga kalau burung masuk, bisa menutup sendiri (ini yang selalu saya siapkan, dan beberapa hari yang lalu sukses untuk menangkap kembali kacer poci yang lepas).
2. Semprotan cadangan (yang biasa kita gunakan untuk memandikan burung) yang didalamnya sudah terisi air dan shampo (berfungsi melengketkan bulu burung yang kita semprot), dan tinggal mengocoknya ketika mau digunakan.
3. Getah bendo (biasanya tersedia di kios burung yang komplit; atau juga di pasar2 burung) yang sudah dileletkan ke sebatang lidi/bambu kecil (yang selalu siap operasional).
4. Tongkat ringan dua meteran sebanyak 2-3 batang yang bisa disambung2 secara mudah dan cepat.
5. Selain itu, jangan sampai kita kehabisan stok EF, utamanya jangkrik karena akan sangat bermanfaat untuk memancing lagi burung yang doyan jangkrik yang lepas.
6. Suara masteran burung-burung yang Anda miliki.

LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL:
1. Jangan panik ketika burung lepas. Perhatikan sekilas model terbangnya. Kalau terbang rendah terus, segera sambar semprotan yang berisi air dan shampoo, kocok segera dan dekati burung sembari menyemprot2kan air shampo ke arah burung. Biasanya burung loncat menghindar; kejar perlahan dan jaga jangan membuat kejutan untuk burung. Semprot2 lagi; burung menghindar; semprot2 lagi. Dan ketika air shampo mulai meresap ke bulu, biasanya burung sudah tidak kuat terbang lagi karena bulu2nya lengket. Tangkap dan mandikan segera.
Cara itu biasanya efektif untuk burung2 yang relatif jinak.
2. Kalau burung tidak langsung terbang menghilang ketika lepas, tetapi nangkring di tempat yang relatif tinggi dan tidak mungkin dijangkau semprotan, maka teriaklah untuk panggil bantuan (entah isteri, anak, tetangga dan sebagainya). Minta kepada mereka untuk mengawasi ke arah mana kalau2 burung terbang. Masih tetap siap dengan semprotan air shampho, segera Anda ambil tongkat dan sambung2kan setinggi tempat burung bertengger. Ikatkan lidi yang sudah dileleti penuh getah bendo. Kalau burung yang lepas doyan jangkrik, tusukkan jangkrik di bagian ujung. Sorongkan perlahan tongkat berlidi-getah ke arah burung; dan kalau bisa ambil arah belakang. Tempelkan lidi bergetah ke burung. Tes, kena…. Kalau burung bergerak turun, fungsikan semprotan air shampo.
3. Kalau burung terlalu tinggi dan tak terjangkau tongkat, segera Anda putar masteran burung Anda sesuai dengan suara burung yang lepas. Ini berfungsi untuk memancing agar burung tidak terbang menjauh dari rumah Anda.
Kalau Anda punya burung sejenis dengan burung yang lepas, segera gantangkan di tempat terbuka. Ini juga berfungsi untuk menahan agar burung yang lepas tidak terbang menjauh dari lingkungan Anda. Kalau burung yang lepas adalah burung fighter (MB, kacer dsb), maka si burung yang lepas biasanya segera menukik dan menghampiri sangkar burung yang sejenis dengannya itu. Kalau ini yang terjadi, ya gunakan semprotan air.
Kalau tidak mau turun, coba saat itu juga tebari sedikit halaman Anda dengan jangkrik kalau burung yang lepas pemakan jangkrik; jagung muda atau milet dsb, kalau yang lepas adalah LM, kenari dan pemakan biji lainnya (untuk kenari, kalau lepas biasanya aman2 saja karena jarang terbang tinggi atau menjauh dari tempat dia selama ini tinggal). Hal itu juga untuk menahan agar burung tidak terbang jauh. Khusus untuk LB, paling efektif adalah dipancing dengan LB lain supaya tidak terbang menjauh.
4. Dalam hal Anda tidak punya suara masteran atau burung sejenis dengan yang lepas, dan si burung berada di tempat yang tak mungkin dijangkau tongkat atau semprotan, fungsikan segera kandang pemikat atau kandang biasa yang dibuat sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk memikat.
Hal inilah yang saya lakukan ketika saya menangkap kacer yang lepas beberapa hari lalu. Kacer lepas karena saya ceroboh ketika mencoba memindahkannya ke karamba. Jarak antara sangkar dan karamba tidak rapat sehingga masih bisa diterobos kacer. Saya sudah merelakannya ketika semua usaha sudah saya lakukan tetapi kacer menghilang setelah terbang dari satu pohon ke pohon lain (di dahan atas pohon melinjo dan mangga yang tinggi2).
Yang saya lakukan saat itu adalah tetap menempatkan kandang kacer di tempat terbuka. Kacer lepas sekitar pukul 8 pagi. Sekitar pukul 11.00 an saya mendengar dencing suara kacer. Saya lihat kacer terbang2 di dahan di seputaran sangkarnya. Saat itu juga saya tebar 3 ekor jangkrik yang sudah saya hilangkan kaki belakangnya. Tujuan saya adalah agar kacer tertarik dan tidak terbang menjauh. Segera saya sambar sangkar dan saya turunkan. Saya teriak minta anak saya mengambilkan benang dan jangkrik. Maka sangkar jebakan pun saya rangkai secara sederhana, yakni, jangkrik saya tali dengan benang di tubuhnya. Posisi saya gantungkan di tengah sangkar. Benang sisanya sepanjang sekitar 75 cm saya lingkarkan ke arah bawah sangkar, memutar, sampai bagian bawah pintu sangkar. Ujung benang itu saya talikan ke lidi seukuran tinggi pintu sangkar. Lidi itu saya fungsikan sebagai penopang pintu sangkar agar tetap membuka penuh. Perkiraan saya, begitu kacer masuk dan menarik jangkrik, maka otomatis benang ketarik dan lidi jatuh. Otomatis pintu menutup. Pada saat itu, saya lihat kacer menari-nari sambil berkicau sembari melotot ke arah jangkrik-jangkrik yang saya tebar di tanah. Sangkarpun segera saya gantungkan dengan pintu yang terbuka menghadap ke kacer berada. Jangkrik di tanah segera saya punguti. Maka perhatian kacer pun segera tertuju ke jangkrik di dalam sangkar.

http://www.kicaumania.org


Responses

  1. Bagus infonya..
    Hati – hati ketika mau ngasih makanan atau mandiin burung dan bersihin kotorannya jangan sampai terbuka pintunya, pengalaman saya kadang suka lalai jadi aja burungnya terbang dan untungnya bisa balik lagi.

    • Bener om Mully, saat mandiin burung dengan cara semprot, pintu kandang basah yg kadang berakibat pintu kagak loncer alias macet gak nutup. ini yg sering terjadi, jika lupa nutup bisa raib tuh burung.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: